Sabtu, 18 Juni 2016

Aku Hanya Sedikit Lelah Saja Yaa Allah..

Aku hanya sedikit lelah saja Yaa Allah, aku tidak meminta Engkau ringankan ujianku, karena aku yakin semakin besar Engkau menguji hambaMu, semakin kuatlah pula hambaMu dalam menghadapi ujian dariMu. Bolehkah aku mengeluh? sedikit saja Yaa Allah, selama ini aku tidak pernah mengeluh akan ujian yang Engkau berikan kepadaku, aku selalu menjalaninya walau tangisan tidak pernah bisa nampak di depan orang lain. Air mataku hanya bisa tumpah tak terbendung pada saat kubersimpuh mengadu atas semua ujianMu.
 
Tapi kali ini berbeda, aku tidak kuat lagi untuk tidak mengeluh kepadaMu Yaa Allah, kepada siapa lagi aku menuangkan keluh kesah ini, tidak ada yang mau mendengarkan, tidak ada yang peduli, hanya Engkaulah yang dekat denganku. Ujian yang Engkau berikan selalu dapat aku lewati berkat kemudahan yang Engkau berikan, hanya saja lulus dengan nilai yang tidak sempurna, aku masih sering berburuk sangka kepadaMu.
 
Tahun ini masih setengah lagi akan berakhir, tapi tahun ini sangatlah berat Yaa Allah, dari beberapa pekerjaanku yang tidak berjalan baik, banyak rintangan, promilku tertunda karena sibuknya berjibaku dengan seribu urusan, hubungan dengan beberapa orang yang aku anggap dekat menjadi menjauh dan usaha merintis usaha tidak berjalan sebagaimana yang kurencanakan. Ujian apalagi yang akan Engkau berikan kepadaku Yaa Allah? sedangkan ujianMu yang lain belum bisa kuselesaikan. Kenapa ujian ini datang secara bertubi-tubi? Aku bahkan hampir lupa cara tersenyum tulus tanpa beban kepada lingkungan di sekitarku.  
 
Ketika orang bertanya kepadaku apa yang paling membahagiakan dalam hidupmu? Aku selalu berpikir lama sekali, karena aku tidak ingat apa yang membuatku bahagia. Tetapi ketika orang bertanya hal apa yang paling menyedihkan dalam hidupku? Banyak jawaban yang keluar dari mulutku. Aku hampir lupa cara berbahagia. Aku bukannya tidak mensyukuri apa yang Engkau berikan, aku hanya ingin bertanya kenapa Engkau memberikan ujian-ujian berat ini kepadaku? Yakinkah Kau Yaa Allah aku bisa melewatinya? Aku sendiri bahkan tidak yakin Yaa Allah, aku hanya menjalani yang Engkau berikan saja. Jawablah Yaa Allah, buatlah aku tersenyum. Ampunilah segala dosa-dosaku selama ini, ampuni aku karena kata-kataku yang berkeluh kesah kepadaMu. Maafkanlah ketidaktahuan diriku akan rencanaMu di masa yang akan datang. Aku selalu berdoa kepadaMu setiap malam, “Jika hidup yang terbaik untukku, maka tolong kuatkanlah diriku dalam menghadapi ujian-ujianMu saat ini dan berikutnya, tapi jika kematianlah yang terbaik untukku, maka tolong Yaa Allah, janganlah Engkau murka kepadaKu tapi jemputlah aku dalam keadaan "baik" (khusnu khotimah).
 
Setiap malam sebelum tidur, aku selalu berdoa kepada Allah SWT, untuk memberiku senyuman esok hari, senyuman yang tulus tanpa beban. Tapi belum pernah aku merasakan senyum yang setulus-tulusnya senyum dalam menjalani hari-hariku. Aku hanya berpikir positif, mungkin belum saatnya. Sekali lagi maafkanlah diriku Yaa Allah. Aku yakin Alah SWT akan memberiku senyum lagi pada hari yang indah dan pada waktu yang tepat.

Rabu, 15 Juni 2016

Cukuplah Allah bagiku.. Cukup Allah.. Cukup Allah saja..


Dulu, dulu sekaalii.. shalat, puasa, ibadah sunnah yang lain bukan karena Allah SWT.. Astagfirullah :(

Kalo shalat Tahajjud niatnya untuk hajat.. Hajat "saya" mau apa2, diminta disitu.. Dilancarkan usahanya, dilindungi, dimudahkan semuaanya..
 
Sama halnya shalat dhuha, niatnya bukan karena Allah :( Sebaliknya, supaya Allah memudahkan segala urusan saya..
 
Allah memang mengabulkan semuaaanya..

Allah mendengar doa-doa saya..
 
Alhamdulillah, semua yang "saya" inginkan mendapat kelancaran, bahkan sangaattt lancaarrr..
 
Ternyata.. Ternyata saya salah. Cara saya SALAH.
 
Allah Murka..
 
Allah Cemburu..
 
Kenapa saya mencintai diri saya melebihi dari saya mencintai kepada Allah SWT ? Saya hanyalah hamba yang begitu dicintaiNya, hamba yang begitu dikasihiNya, diberikan semuaaa yang diminta, tapi mengapa cintanya justru lebih besar pada makhluk ciptaanNya?
 
Beberapa bulan terakhir ini Allah menegur saya..
 
Beberapa kejadian sebelum bulan Ramadhan adalah cara Allah mengingatkan hati saya, bahwa seharusnya ibadah benar-benar HANYA UNTUK ALLAH SWT SAJA.. Subhanallah.. Allah selalu punya cara tersendiri untuk menegur hambaNya agar hamba itu bener-bener NGEH!
 
Semoga Allah mengampuni segala dosa saya dan dosa keluarga saya.. Semoga Allah senantiasa memberi kami petunjuk agar senantiasa berada di jalanNya..
 
Sekarang mau apa-apa.. Niatnya harus hanya karena Allah SWT semata dan biarkan hanya Allah SWT saja yang mengetahui ibadah saya.. Yang terpenting adalah semua ibadah bukan karena permintaan hanya untuk kepentingan "saya" tapi harus hanya karena Allah SWT..
 
 



Kamis, 09 Juni 2016

Let See YOU..

Sudah 9 hari berlalu dari waktu ulang tahun usia pernikahan kami yang baru menginjak sangat junior. Walaupun usia pernikahan kami masih terbilang junior tapi sebenanrnya kami sudah mengarungi biduk pengalaman berumah tangga dalam hitungan puluhan tahun. Tapi tetap saja, untuk memulai sesuatu yang baru itu kami harus membayar dengan pembelajaran yang sangat mahal harganya.
 
Hmmm... Salah satu penghalang kebahagiaan bagi kami adalah belenggu masa lalu dan beban hidup di masa depan yang penuh teka teki.
 
Kejadian-kejadian yang menyesakan dada dan menguras daya pikiran kami diselimuti bayang-bayang gelap di masa lalu dan bayang-bayang kelabu yang belum terjadi di masa mendatang. Hal-hal inilah yang acap kali merenggut kecerian dan kebahagiaan kami. Merasa hidup dalam tekanan masa lalu dan kekhawatiran akan hal yang bisa terjadi di masa mendatang yang penuh pesimisme.

Perumpamannya adalah, bila ada seorang istri hidup dalam tekanan kegelisahan karena peristiwa selingkuh yang dilakukan suami di masa lalu, dan ketakutan akan berulangnya perselingkuhan suami di masa yang akan datang. 

Demikian pula seorang suami bisa berada dalam situasi depresi karena perilaku buruk istri di masa lalu dan kekhawatiran akan berulangnya perilaku buruk istri di masa mendatang. 

Hal itu berlaku pula untuk konteks ekonomi. Suami dan istri bisa mengalami guncangan akibat persoalan ekonomi yang menghimpit mereka di masa lalu, serta ketakutan akan muncul problem yang sama di masa mendatang.

Di titik ini rupanya kita perlu belajar dari balita. Mereka bisa ceria dan bahagia karena tidak memiliki beban yang membelenggu di masa lalu, tidak pula punya beban yang membelenggu atas hal-hal yang belum terjadi di masa mendatang. 

Mereka fokus pada apa yang ada di waktu sekarang, pada momen saat ini, pada sesuatu yang tidak memberikan beban.

Ingin situasi kehidupan saya bersama pasangan dalam kondisi selalu baik-baik saja, penuh limpahan rasa bersyukur kepada Allah SWT dan berusaha menikmati manis pahitnya perjalanan hidup kami. Ingin rasanya selalu bisa menepis untuk tidak mengungkit hal buruk di masa lalu dan jangan membayangkan hal buruk yang belum terjadi saat ini. 

Tidak bisa dipungkuri bahwa situasi kehidupan saya bersama pasangan dalam kondisi kurang baik saat ini. Bisikan malaikat untuk tetap bersabarlah dan teruslah berusaha untuk memperbaiki diri adalah secercah harapan dalam mempertahankan rumah tangga yang dilandasi kerapuhan atas kebohongan dan pengkianatan sebuah kepercayaan.
 
Ingin rasanya hati ini tidak membebani diri dengan segala hal yang telah berlalu, dan segala hal yang belum terjadi. Tapi apalah daya saya karena tetap saja saya ini hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan ketidaksempurnaan... Hanya memohon kekuatan doa kepada Allah SWT agar semua hal buruk dapat kami lalui dengan baik. Insha Allah..

Rabu, 08 Juni 2016

Bila Saya Terdzolimi

“Hati-hatilah terhadap doa orang yg terdzalimi, krna tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”(HR Bukhar
 
Bila saya terdzalimi atau teraniaya oleh orang-orang yang dzalim, maka saya tidak perlu berputus asa menghadapi keperkasaan dan kekuatan penganiayaan orang-orang terhadap saya. Karena mereka orang-orang yang terdzolimi dijanjikan oleh Allah untuk mendapat pembelaan, perlindungan, dan pertolongan guna melawan penganiaya itu. Cara memperoleh jaminan tersebut adalah dengan selalu bersabar dan terus memohon kekuatan dengan tak putus-putus berdoa kepada Allah agar para penganiaya itu mendapat adzab dan siksa dari Allah sehingga mereka tidak merajalela berbuat kezhaliman ditengah masyarakat.
 
Karena itu, saya seharusnya tidak meremehkan senjata kekuatan doa sebagai sarana untuk melawan kedzaliman orang-orang yang berbuat dzalim, karena permohonan doa orang-orang yang terdzalimi cepat atau lambat akan dikabulkan oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang-orang yang suka menganiaya seharusnya takut dan berhati-hati menghadapi orang-orang yang teraniaya, karena orang-orang yang teraniaya itu pasti dibela dan dilindungi oleh Allah. Permohonan apa saja untuk penganiayanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
 

HUKUM MENDOAKAN KEBURUKAN ATAS ORANG DZALIM

Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang terdzalimi dan teraniaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang mendzaliminya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kacuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Kecuali oleh orang yang dianiaya.” (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas)

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.” (QS. Al-Syuura: 41)

. . . dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang mendzaliminya. . .

Namun, apakah ini yang terbaik baginya? Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang mendzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan).
Berbeda jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kedzaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak.

Namun, jika ia bersabar, memaafkan, dan membalas keburukan dengan kebaikan maka ia mendapat pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Al-Syuura: 40)

Maksudnya: Allah tidak akan menyia-nyiakan sikapnya itu di sisi-Nya. Tetapi Allah akan memberikan pahala yang besar dan balasan baik yang setimpal. Disebutkan dalam hadits shahih, “Tidaklah Allah menambah kepada hamba melalui maaf yang ia berikan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)

Maksud “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik,” adalah: apabila ada orang yang berbuat buruk kepadamu baik dengan perkataan atau perbuatan, maka balaslah dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, maka sambunglah. Jika ia menzalimimu maka maafkan ia. Jika membicarakan keburukanmu – baik di depan atau di belakangmu- maka jangan engkau balas, tapi maafkan ia dan bebicara kepadanya dengan lemah lembut. Jika ia mengucilkanmu dan tidak mau berbicara denganmu, maka berbicaralah yang baik dan mulailah berilah salam kepadanya.

Tidaklah taufiq Allah ini diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar atas keburukan yang ia dapatkan dan menyikapinya dengan sesuatu yang Allah cinta. Karena sifat dasar manusia –inginnya- membalas keburukan dengan keburukan agar terpuasaan. Ia tidak mau memberikan maaf. Tapi sifat dalam ayat ini sangat istimewa, bukan hanya maaf yang ia berikan, tapi membalas keburukan dengan memberikan kebajikan. Ia sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan tidaklah mendatangkan kebaikan untuk dirinya, khususnya di akhirat. Sementara jika ia berbuat baik kepadanya, kebaikannya itu akan tetap dicatat kebaikan.

Bersikap seperti di atas tidaklah akan merendahkan martabatnya, tetapi sebaliknya, Allah akan meninggikannya dengan akhlak mulia tersebut. Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat karena mulianya akhlak yang ia tampilkan.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Aku Adalah .................

Aku adalah seorang perempuan yang sudah memasuki usia lebih dari 40 tahun pada saat memulai menulis blog ini. Aku yang masih terus berjuang mencari makna hidup, arti napas, yang masih  perlu belajar mencari arti kehadiran demi kehadiran dalam suka dan duka dan kepergian demi kepergian dalam tangis maupun senyum..
 
Aku adalah perempuan di ladang kehidupan yang memiliki berbagai banyak bentuk benda dan mahluk yang mengisi ladang kehidupanku ini. Apapun yang semua kumiliki karena pecinta ILLAHI kepadaku seorang hamba yang hanya senoktah kecil dari lebih 5 Milyar hamba yang lain di bumi fana ini.
 
Aku adalah perempuan yang sedang mencoba belajar tentang arti IKHLAS, arti SABAR, arti MENCINTAI dan DICINTAI, arti MEMAAFKAN, arti TAWAKAL, arti ISTIQAMAH, arti TIADA-ADA-TIADA-ADA, bukankah tak ada yang abadi di bumi fana ini, bahagia tak abadi, deritapun tak abadi, dan insya ALLAH apa yang kutulis disini bisa memberi sedikit pencerahan berbagi pengalaman untuk mencintai dan mengobati luka sekaligus dan yang pasti aku sedang mencari ridho ILLAHI pemilik nafas diriku agar ketika aku pulang, mudahkanlah sakaratul maut untuk diriku..